Sabtu, 2 Mei 2026 - 08:44 WIB
banner ucapan Sekda revs

Cegah Stunting di Masa Pandemi COVID-19, HIPPG Minta Bu Thia Jadi Narasumber dan Duta Nasional

Selasa, 9 Maret 2021
333 views
0
Screenshot_2021-03-09-15-18-50-24

Cegah Stunting di Masa Pandemi COVID-19, HIPPG Minta Bu Thia Jadi Narasumber dan Duta Nasional

kitamerahputih.com
Selasa, 09/03/2021.

Sekayu - Sumsel, Selain menghadapi pandemi COVID-19, Indonesia juga punya masalah yang perlu diatasi yakni gizi buruk. Sebab gizi buruk bisa memicu stunting. Dilansir dari laporan resmi Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI, sebanyak 3 dari 10 anak Indonesia mengalami stunting atau kondisi gagal tumbuh masa bayi di bawah umur lima tahun (balita).

Menurut Ketua Tim Penggerak Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Kabupaten Musi Banyuasin (Muba) Hj Thia Yufada Dodi Reza, keluarga adalah aspek terpenting menekan angka stunting di masa pandemi COVID-19. Menurutnya seorang ibu punya peran sangat penting bagi anak-anaknya.

“Angka stunting di Kabupaten Muba tahun 2020 menurun, berkat PKK bersama Dinas Kesehatan dan semua stakeholder berkoordinasi dan kerjasama untuk pencegahan stunting," ujarnya saat jadi Keynote Speaker dalam acara Web Seminar (Webinar) yang diselenggarakan oleh Habibie Institute for Publik Policy and Governance (HIPPG) Universitas Indonesia (UI), di Ruang rapat Guest House Griya Bumi Serasan Sekate, Selasa (9/3/2021).

Duta Cegah Stunting Kabupaten Muba ini juga mengatakan, pencegahan stunting telah diupayakan secara aktif oleh posyandu, sosialisasi dan edukasi. Namun, selama pandemi COVID-19 kegiatan tersebut menjadi terhambat.

Oleh karena itu, Istri Bupati Muba ini mengajak para ibu-ibu berusaha mewujudkan berbagai inovasi agar upaya pencegahan stunting tetap berjalan dengan baik seperti sebelumnya.

Selain keluarga sebagai wadah terpenting, menurut Thia kolaborasi antar pihak seperti sekolah juga penting untuk memberikan edukasi pengawasan di kalangan remaja.

Salah satu upaya yang dilakukannya antara lain, sosialisasi, edukasi dan pengawasan secara online melalui media sosial. Dia menambahkan, bantuan lain yang diberikan berupa pemberian makanan yang mengandung nutrisi, protein, dan gizi yang cukup.

Direktur Eksekutif HIPPG Dr drg Widya Leksmanawati Habibie Sp Ort MM menyampaikan apresiasi atas keberhasilan Pemkab Muba menurunkan angka stunting di Kabupaten Muba.

"Luar biasa program-program yang telah dilakukan Pemkab Muba dalam menurunkan angka stunting, terutama peran Ibu Thia Yufada sebagai Duta Cegah Stunting. Di sini peran ibu-ibu sangat dimanfaatkan. Kami mengharapkan Bu Thia bisa jadi narasumber atau motivator untuk cegah stunting secara nasional. Kami yakin bisa memotivasi para kader-kader posyandu di indonesia terkait angka stunting ini,"ucapnya.

Kepala Dinas Kesehatan Kabuoaten Muba dr Azmi Dariusmansyah MARS mengungkapkan, pihaknya telah melakukan berbagai program dalam penurunan angka stunting ini. Seperti sosialisasi untuk ibu hamil serta pasangannya dapat memperoleh informasi terkait asupan nutrisi yang baik selama masa kehamilan yakni menu sehat seimbang, asupan zat besi, asam folat, dan yodium. Saran lain berupa himbauan agar ibu hamil dapat menjalankan pemeriksaan rutin ke posyandu.

Dikatakan Azmi, stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak balita akibat dari kekurangan gizi kronis sehingga anak lebih pendek untuk usianya. Kekurangan gizi terjadi sejak bayi dalam kandungan dan pada masa awal kehidupan setelah lahir dan nampak setelah anak berusia 2 tahun.

"Untuk itu perlu perbaikan pola asuh, pola makan dan perbaikan sanitasi tiga komponen ini perlu penanggulangan dengan cepat, akan didata kelapangan ke daerah, desa-desa, tentu Pemkab juga ikut berperan dalam hal ini," ucapnya.

Dirinya menambahkan, masalah stunting merupakan tata kelola dalam penanganannya sehingga diperlukan kesamaan visi. Dirinya berharap lewat webinar muncul kesamaan visi dalam menangani stunting hingga nilai angka stuting di tahun 2024 turun. Upaya ini diyakininya bisa mempercepat langkah dan lebih inovatif menyelamatkan rakyat dari era pandemi covid ini.

"Di Muba menghadapi masalah gizi yang berdampak terhadap kulitas Sumber Daya Manusia (SDM) yaitu masih tinggi prevalensi anak balita pendek (stunting). Dan stunting tersebut adalah sebuah kondisi berdasarkan pengukuran tinggi badan menurut umur seseorang ternyata lebih pendek dibandikan tinggi badan seusianya," ungkapnya.

Azmi  juga menyebutkan, faktor langsung mempengaruhi status gizi balita yaitu faktor konsumsi makanan dan penyakit infeksi kedua ini saling mempengaruhi. Kualitas lingkungan hidup terutama adalah ketersediaan air bersih sarana sanitasi dan perilaku hidup sehat seperti kebiasaan cuci tangan dengan sabun, buang air besar di jamban, tidak merokok dan sirkulasi udara dalam rumah.(rilis pemkab muba)

0 0 vote
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

New Feed

USU Kalahkan UI dan IPB, Raih Perguruan Tinggi Peringkat Pertama di Indonesia Versi SIR

Sat, 22 Jun 2019 01:44:54am

TRIBUN-MEDAN.com - Universitas Sumatera Utara (USU) menorehkan prestasi dengan menjadi Perguruan Tinggi (PT) peringkat pertama di...

Tiga emas disabet mahasiswa USU dalam kompetisi internasional di Rusia

Sat, 22 Jun 2019 01:39:00am

Prestasi yang membanggakan itu diukir Tim Schneider USU dalam lomba inovasi '22nd Moscow International Salon of Invention and Innovative...

Dr Iskandar Muda, SE, M Si, Ak, CA, dosen di FEB USU, menduduki peringkat pertama dalam top 50 ranking SINTA Score untuk tiga tahun terakhir

Sat, 8 Jun 2019 08:06:53am

Telah Ditayangkan: 04 Juli 2018  MEDAN – HUMAS USU : Dr Iskandar Muda, SE, M Si, Ak, CA, salah seorang dosen di Fakultas Ekonomi dan Bisnis...

IKA USU Jakarta dan Sekitarnya akan Gelar Konser Medan Tunggal Ika, Sabtu 14 September 2019

Sun, 19 May 2019 04:45:46pm

IKA USU Jakarta dan Sekitarnya akan Gelar Konser MTI 2019, yuk catat tanggalnya. Ikatan Alumi Universitas Sumatera Utara (IKA-USU) wilayah Jakarta...

Baca Juga