Rabu, 19 Agustus 2026 - 07:26 WIB
Bijak Bermedia Sosial

Forum Peduli Kemanuasian dan Dewan Adat Papua Mendesak Pemerintah Pusat Agar Menunjuk Pejabat Gubernur

Rabu, 5 Januari 2022
278 views
0
IMG-20220105-WA0024
JAYAPURA –KITA MERAH PUTIH@ COM Pemerintahan Papua Menyikapi kondisi kesehatan Gubernur Papua, Lukas Enembe, yang saat ini dalam proses pengobatan berakibat fatal pada lambannya penyelanggaraan pemerintahan, maka Forum Peduli Kemanusiaan dan Tokoh Adat Papua mendesak Pemerintah Pusat lewat Kemendagri sesegera mungkin menunjuk Penjabat Gubernur. sementara. Jayapura, Selasa (04/01/2022) Ketua Peradilan Adat Suku Sentani Kabupaten Jayapura, Jackob Fiobetauw. Didampingi Menase Taime, Ketua Forum Peduli Kemanusiaan, Jhon Maurits Suebu, Sekretaris Forum Peduli Kemanusiaan, Jackob Fiobetauw, Ketua Peradilan Adat Suku Sentani Kabupaten Jayapura, Jhon Suebu, Ondoafi ifale, Wakil Ketua GKI Klasis Sentani Piter Yom, SE, Harly Ohei, Ondoafi Heram, Septinus Ibo, Ondoafi Atamali dan Jhon Tukayo, Kepala Suku Heram Ayapo mengatakan efektivitas penyelenggaraan pemerintahan di Papua, belum berjalan dengan maksimal. Salah satu faktor penyebabnya adalah, kurang nya kapasitas pejabat pelaksana dalam mengelola Birokrasi yang Pemerintahan Daerah yang begitu besar. Menurut Beliau, jackob Fiobetauw, kapasitas penyelenggara pemerintahan menjadi salah satu faktor, terhadap masih banyaknya masalah dan ketimpangan- ketimpangan dalam upaya meningkatkan kesejahteraan di Papua. Dan rendahnya kualitas pejabat juga tindakan korup yang berlebihan, turut menambah ‘citra buruk’ birokrasi yang tidak diharapkan masyarakat. Keburukan birokrasi tak lepas dari lemahnya kepemimpinan di Papua. Gubernur Lukas Enembe yang sejatinya dapat mengelola Papua lebih baik, untuk kepentingan masyarskat banyak,malah meninggalkan rekam jejak yang semakin memperparah pelayanan birokrasi terhadap masyarakat pada umumnya di Papua Dengan kondisi kesehatan,Lukas Enembe memang tidak lagi mampu dalam menjalan roda pemerintahan dengan baik dalam setahun terakhir. terus merosot. sangat dipengaruhi oleh kondisi kesehatannya yang menurun drastis. Lukas dikabarkan, bahkan kini tengah menjalani perobatan besar di luar negeri. Lukas mesti mengikuti berbagai petunjuk dokter dan tindakan medis yang menyita waktunya untuk melayani warga Papua.” ungkapnya Akibat berkonsentrasi pada pengobatan diri, Lukas telah mengabaikan tugasnya sebagai Gubernur Papua. Disisi lain, banyak persoalan pasca PON XX Papua yang berlarut-larut. dan sanpai saat ini belum terselesaikan,Berbagai lapisan di Papua, termasuk tokoh Gereja Katolik, Pastor Yohanes Djonga, telah mendesak Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk segera memeriksa Panitia Besar PON XX atas dugaan penyalahgunaan dana. “Tuntutan agar masalah PON harus diselesaikan, bukan tanpa alasan. Forum Peduli Kemanusiaan mencatat, sejumlah lahan ulayat yang digunakan untuk pembangunan sejumlah venue PON, bahkan belum dibayar oleh Pemerintah Papua. Diantaranya adalah Venue Cricket, di Doyo, Kabupaten Jayapura,” ujarnya Segudang persoalan ini, telah membuat malu masyarakat Papua. Ini juga berbanding terbalik dengan janji pemerintah. Pemerintah mengatakan, akan membayar lunas masalah hak ulayat, tapi ujungnya tidak jelas. Acara pembukaan PON digelar meriah, penuh pesta kembang api, tapi ternyata ada pemilik tanah yang sampai saat ini merasa tertipu. Maka dari itu persoalan Papua dan pemimpinnya yang tidak sehat, tokoh adat dan Forum Peduli Kemanusiaan di Papua mendesak kepada pemerintah segera menyelesaikan maslah ini. Menunjuk seorang Penjabat Gubernur Papua agar kiranya pemerintahan dapat kembali optimal. Dengan tiadanya Wakil Gubernur dan kondisi Gubernur Papua yang sakit-sakitan, telah mengakibatkan kegaduhan birokrasi dan minusnya pelayanan publik. Penjabat Gubernur Papua yang ditunjuk, selambat lambatnya hingga akhir Maret 2022. Kami juga minta pemerintah pusat segera bersikap dengan menangkap/memeriksa Ketua PB PON Papua Yunus Wonda dan Sekum KONI Papua Kenius Kogoya karena tidak becus mengatur dana PON sehingga hak ulayat masyarakat berupa tanah atau lahan yang dibangun infrastruktur PON belum dibayar hingga kini.ke mana dana PON XX sebanyak itu. Kepada Bupati Jayapura, jangan diam saja dan menutup mata tapi segera mendorong pemerintah pusat dan provinsi Papua membayar hak pemilik ulayat. karna Masyarakat sangat kecewa dengan sikap yang tidak menghargai adat. Jika permintaan ini tidak diindahkan, maka masyarakat adat akan bertindak lebih besar dengan menggugat pemerintah dan pihak terkait untuk segera melunasi hak-hak yang belum dibayarkan. Forum Peduli Kemanusiaan dan para tokoh adat Papua,” Red Audry
0 0 vote
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

New Feed

MU Amankan Wonderkid Portugal Titisan Luis Figo

Mon, 19 Oct 2020 02:49:10am

Liputan6.com, Jakarta- Manchester United (MU) kembali melirik pemain muda berbakat Portugal. Kali ini Setan Merah berhasil mengamankan jasa salah...

Kuasa Hukum Terdakwa Jiwasraya Persoalkan Vonis Hakim yang Persis Tuntutan Jaksa

Mon, 19 Oct 2020 02:38:38am

Liputan6.com, Jakarta - Penasihat Hukum Direktur Utama PT Maxima Integra Joko Hartono Tirto, Soesilo Aribowo kecewa dengan putusan Majelis Hakim...

Keterjangkauan dan Kemudahan Layanan Dinilai Jadi Solusi Masyarakat Melek Hukum

Mon, 19 Oct 2020 02:36:01am

Liputan6.com, Jakarta - Perkembangan teknologi memegang peranan besar dalam pertumbuhan ekonomi Indonesia, terutama dalam mengembangkan usaha atau...

YLBHI Minta Polisi yang Pukul Jurnalis Saat Liput Demo Diproses Hukum

Mon, 19 Oct 2020 02:34:37am

Liputan6.com, Jakarta - Ketua Advokasi Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI), Muhammad Isnur meminta kepolisian memproses hukum personelnya...

Penegak Hukum Diminta Hati-Hati Tangani Kasus Perbankan

Mon, 19 Oct 2020 02:00:31am

Liputan6.com, Jakarta - Penegak hukum dalam hal ini Kejaksaan Agung diminta berhati-hati dalam menangani kasus perbankan. Pasalnya posisi perbankan...

Baca Juga