Liputan6.com, Jakarta - Budaya perusahaan menjadi salah satu kunci keberhasilan perusahaan bertahan di masa pandemi Covid-19. Perusahaan yang memiliki budaya organisasi lebih kuat dianggap lebih bisa bertahan dalam menghadapi jurang resesi ekonomi yang sudah di depan mata.
"Organisasi dengan budaya perusahaannya kuat akan lebih tangguh ketimbang yang budayanya tidak kuat," kata Steering Committee Inclusive Human Resource Indonesia (IHRI), Anwar Yulistianto dalam diskusi Top Business Talk #2 : Bangun Champion Team, Hadapi Resesi, Jakarta, Jumat, (16/10).
Kultur yang ada di sebuah perusahaan ikut menentukan cara perusahaan beradaptasi di masa pandemi. Dalam hal ini kompetensi pegawai perusahaan diasosiasikan sebagai perangkat yang digunakan untuk bertahan.
"Ada kompetensi yang diharapkan mampu membentuk perilaku yang menunjang ataupun mendukung budaya yang diharapkan," kata dia.
Namun, budaya dalam organisasi ini tidak dibuat seketika saat dibutuhkan. Sebab ini merupakan hasil investasi yang dibentuk perusahaan sejak awal.
Budaya dalam organisasi sebaiknya diciptakan sejak berdirinya perusahaan. "Budayanya dulu dibentuk kalau mau jadi organisasi yang unggul, ini harus ada. Makanya di filter di awal," kata dia.
Atau, lanjut Anwar, budaya ini diciptakan dari para pemimpin perusahaan yang selanjutnya diikuti para pegawai di bawahnya. Para pemimpin juga harus bisa mengisi dan membangun kekurangan dari budaya organisasi yang menjadi hambatannya.
"Karena budaya baru dibentuk maka cari gape-nya dan dibangun dari situ," kata dia.
Hanya saja, strategi ini pun butuh waktu untuk dirasakan perubahannya. Setidaknya butuh waktu 1-2 tahun untuk bisa terasa perubahannya.
"Ini kan dibentuk bukan dalam waktu sebentar, jadi perlu dipikirkan oleh para leader," kata dia mengakhiri.
Reporter: Anisyah Al Faqir
Sumber: Merdeka.com
Ilustrasi pengusaha muda (iStock)[/caption]







