Selasa, 3 November 2026 - 02:20 WIB
Bijak Bermedia Sosial

Ilmu Politik Turun ke Masyarakat, Kandidat Doktor Ilmu Politik Ade Indra Raih “APSIPOL Award” 2026

Senin, 2 November 2026
16 views
0
IMG-20261102-WA0051

 

Surabaya – Suasana riuh dan penuh kehangatan menyelimuti Gedung ASEEC Tower, Kampus B Universitas Airlangga (UNAIR), Jalan Dharmawangsa, Surabaya. Hari itu, Senin, 2 November 2026 ada puluhan akademisi, peneliti, hingga pemerhati politik dari berbagai belosok Nusantara berkumpul dalam satu ikatan intelektual.

Hari itu bukan sekadar perjumpaan rutin tahunan, melainkan sebuah tonggak sejarah penting, “Peringatan Satu Dekade Asosiasi Program Studi Ilmu Politik se-Indonesia (APSIPOL)” sekaligus penyelenggaraan Temu Nasional dan Musyawarah Nasional (Munas) 2026.

Sebagai tuan rumah, Departemen Ilmu Politik UNAIR meneruskan estafet kepemimpinan perhelatan nasional ini setelah tahun sebelumnya, pada 2025, Universitas Padjadjaran (UNPAD) sukses menggelar agenda serupa yang menghasilkan berbagai evaluasi mendasar bagi pengembangan studi keilmuan. 

Di Surabaya, perayaan sepuluh tahun APSIPOL diresapi dengan semangat baru untuk merespons dinamika politik kontemporer tanah air serta memperkuat kontribusi nyata ilmu pengetahuan bagi kehidupan bermasyarakat.

Pada perhelatan akademisi Ilmu Politik dari berbagai kampus di Indonesia, salah seorang putra Sumatera Selatan (Sumsel), Ade Indra Chaniago sukses meraih penghargaan APSIPOL Awards 2026 yang diberikan kepada para insan dan lembaga yang dinilai paling menonjol dalam memajukan tradisi akademik serta pengabdian politik di Indonesia.

Nama Ade Indra yang kini tercatat sebagai mahasiswa Strata Tiga (S3) pada Program Studi Ilmu Politik Universitas Indonesia, menjadi salah satu peraih penghargaan dari 11 orang dan lembaga yang menerima penghargaan tahun ini. Sosok kandidat doktor ilmu politik Ade Indra namanya ada dalam penerima APSIPOL Awards 2026 bersama pakar politik Prof Ramlan Surbakti dari Universitas Airlangga (Unair) dan Prof Burhanuddin Muhtadi dari UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta. Juga pakar politik senior Prof Miriam Budiardjo (alm) yang menerima penghargaan untuk kategori APSIPOL Lifetime Achievement Award atas dedikasi tanpa batas sepanjang hayatnya.

Berikut daftar lengkap penerima APSIPOL Award 2026:

APSIPOL Lifetime Achievement Award: Diabdikan kepada almarhumah Prof. Miriam Budiardjo atas dedikasi tanpa batas sepanjang hayatnya dalam meletakkan fondasi keilmuan politik Indonesia.

APSIPOL Distinguished Political Scientist Award: Diberikan kepada pengamat politik ternama, Prof. Burhanuddin Muhtadi, Ph.D.

APSIPOL Award for Excellence in Political Education: Diterima oleh Program Studi S1 Ilmu Politik Universitas Indonesia (UI).

APSIPOL Award for Research Excellence: Diraih oleh Haryanto, SIP, MA atas kontribusi riset keilmuannya.

APSIPOL Award for Political Innovation (Subkategori Individu): Diberikan kepada Wawan Sobari, Ph.D.

APSIPOL Award for Political Innovation (Subkategori Institusi): Kembali disabet oleh Program Studi S1 Ilmu Politik Universitas Indonesia (UI).

APSIPOL Award for Democratic Contribution: Dianugerahkan kepada pakar pemilu dan demokrasi, Prof. Ramlan Surbakti, Ph.D.

APSIPOL Award for Community Engagement: Dianugerahkan kepada Ade Indra Chaniago, M.Si.

APSIPOL Award for Institutional Leadership: Diterima oleh Dr. Rer. Pol. M. Faishal Aminuddin atas kepemimpinan kelembagaannya.

APSIPOL Young Political Scientist Award: Dianugerahkan kepada Umiyati Haris, M.Si.

APSIPOL Institutional Contribution Award diberikan kepada Prodi S1 Ilmu Politik Universitas Brawijaya (UB).

 

Dalam surat Keputusan Ketua Umum APSIPOL Nomor 055/APSIPOL/A/X/2026 yang ditetapkan di Jakarta pada 31 Oktober 2026 yang ditandatangani Ketua Umum APSIPOL Dr. Asep Sahid Gatara, M.Si, pernghargaan tersebut diberikan berdasarkan pertimbangan Tim Juri maka asosiasi resmi menganugerahkan APSIPOL Awards 2026 kepada para insan dan lembaga yang dinilai paling menonjol dalam memajukan tradisi akademik serta pengabdian politik di Indonesia.

 

Dalam surat keputusan tersebut juga menyatakan, membangun tradisi apresiasi terhadap segala prestasi pengembangan Ilmu Politik merupakan sebuah keniscayaan akademik. APSIPOL Awards hadir sebagai instrumen untuk merawat etos riset, inovasi, kepemimpinan institusional, hingga pengabdian masyarakat. Pada perhelatan tahun 2026 ini, serangkaian nama besar dan lembaga teruji melengkapi berhak menerima penghargaan tersebut.

 

Ilmu Politik Melangkah Keluar 

Di antara deretan penghargaan tersebut, ada satu kategori yang menyedot perhatian tersendiri, yaitu Community Engagement (Pengabdian dan Keterlibatan Masyarakat). Penghargaan kategori ini diberikan kepada Ade Indra yang kini tercatat sebagai Dosen Tutor Ilmu Politik di UPBJJ-UT Palembang. Kategori ini menyuarakan kritik mendalam terhadap kecenderungan ilmu pengetahuan yang sering terisolasi di dalam ruang-ruang menara gading.

Saat melangkah menerima penghargaan di panggung ASEEC Tower UNAIR, Ade Indra Chaniago, M.Si tak mampu menyembunyikan rasa harunya. Bagi akademisi yang selama ini konsisten menjembatani teori politik dengan realitas sosial rakyat ini, penghargaan dari APSIPOL bukanlah sekadar selembar piala atau sertifikat pengakuan pribadi.

“Alhamdulillah, rasa syukur mendalam saya panjatkan ke hadirat Allah SWT. Saya menyampaikan terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya kepada APSIPOL atas apresiasi APSIPOL Award for Community Engagement 2026 ini”, kata Ade Indra yang juga tercatat sebagai Dosen Ilmu Politik di Stisipol Candradimuka Palembang.

Ade menegaskan bahwa apresiasi ini sejatinya membawa beban moral dan tanggung jawab yang jauh lebih besar. “Bagi saya, penghargaan ini bukan semata-mata pengakuan terhadap capaian pribadi, melainkan sebuah amanah sekaligus pengingat bahwa ilmu pengetahuan harus memiliki tanggung jawab sosial”, ujarnya.

Sebagai akademisi yang menggeluti ilmu politik pandangan Ade mampu merobohkan prasangka lama bahwa politik hanya urusan perebutan kekuasaan pragmatis semata. Ade Indra menyampaikan refleksinya bahwa ilmu pengetahuan tidak boleh terkurung dalam benteng teoretis.

“Saya percaya bahwa ilmu politik tidak boleh hanya hidup di ruang-ruang seminar, ruang kuliah, atau menjadi perdebatan di kalangan akademisi saja. Ilmu politik harus hadir di tengah masyarakat, membantu publik memahami persoalan kekuasaan, kebijakan, demokrasi, keadilan, dan tata kelola pemerintahan”, ujarnya.

Menurut dosen yang pendapatnya kerap mengisi laman media online dan media cetak di Sumatera Selatan, pada hakikatnya politik bukan hanya tentang bagaimana kekuasaan diperoleh dan dipertahankan. Lebih jauh dari itu, politik adalah sarana untuk memastikan bahwa kekuasaan yang ada digunakan sebesar-besarnya untuk menghadirkan kesejahteraan dan keadilan bagi rakyat.

“Karena itu, saya memandang keterlibatan masyarakat atau community engagement sebagai bagian penting dari tanggung jawab intelektual. Akademisi dan pemerhati politik tidak cukup hanya menjadi pengamat pasif, tetapi juga harus mampu menjembatani pengetahuan dengan kebutuhan masyarakat serta mendorong lahirnya kebijakan publik yang lebih berpihak kepada kepentingan rakyat”, ujar Ade yang kini menjadi Ketua AIPI (Asosiasi Ilmu Politik Indonesia) Sumsel.

Penghargaan ini, menurutnya, dipersembahkannya secara khusus kepada publik luas yang selama ini menjadi laboratorium hidup dan mata air inspirasinya. “Penghargaan ini saya persembahkan untuk masyarakat, khususnya mereka yang selama ini menjadi sumber pembelajaran, inspirasi, dan perjuangan dalam kerja-kerja pengabdian. Ukuran keberhasilan ilmu pengetahuan bukan hanya seberapa tinggi ia berkembang di ruang akademik, melainkan seberapa besar manfaatnya dirasakan oleh masyarakat”.

Sebagai akademisi dan ilmuwan politik Ade Indra telah menerbitkan tiga judul buku. Ade menjadi penulis dan editor pada buku “Sindrom Kuasa Ancaman Sistem Politik Demokrasi (Power, Politic and Democracy in Indonesia)” yang terbit tahun 2005. Buku “Dari Capitol ke Senayan”, (2007) dan “Cermin Retak Wajah Polri”, (2013)

Apresiasi dan Harapan 

Keberhasilan Ade Indra Chaniago merengkuh APSIPOL Award for Community Engagement 2026 turut memantik kebanggaan dari kalangan pers, khususnya insan media di Sumatera Selatan tempat Ade banyak berinteraksi dan menyuarakan gagasan publiknya.

Wartawan senior Sumatera Selatan sekaligus Pemimpin Redaksi Koran Suara Nusantara, Agus Harizal – yang akrab disapa Agus SN – memberikan ucapan selamat serta apresiasi tinggi atas capaian tersebut.

“Selamat atas Penghargaan APSIPOL Award for Community Engagement 2026 yang diterima oleh Ade Indra Chaniago. Teruslah berkontribusi memperkuat peran ilmu politik dalam kehidupan demokrasi Indonesia sehingga memberikan manfaat nyata kepada masyarakat luas”, tutur Agus SN.

Senada dengan Agus, Bangun P Lubis wartawan senior Sumatera Selatan mantan jurnalis Harian Suara Pembaruan, turut menyampaikan rasa bangganya. “Selamat kepada Ade Indra Chaniago atas Penghargaan APSIPOL Award for Community Engagement 2026 yang diraihnya. Ini adalah buah dari konsistensi pengabdian” kata Bangun yang juga kolega Ade Indra di Stisipol Candradimuka Palembang.

Tentang ASPIPOL

 

Penyelenggaraan Temu Nasional dan Munas APSIPOL 2026 di Kampus B Universitas Airlangga ini berhasil menegaskan kembali arah perjalanan keilmuan politik di tanah air. Di tengah ketidakpastian global dan dinamika demokrasi lokal yang terus bergejolak, perjumpaan para pakar ini tidak berakhir pada seremoni semata.

Keberadaan lembaga seperti APSIPOL – dengan Sekretariat Pusat di FISIP Universitas Indonesia, Depok – menjadi krusial dalam menyatukan standar kualitas pendidikan politik, memperkuat jejaring riset antarperguruan tinggi, serta memastikan gagasan akademis mampu mewarnai perumusan kebijakan publik nasional.

Peringatan satu dekade ini memancarkan pesan kuat: ilmu politik Indonesia sedang bergerak menuju era baru. Sebuah era di mana keunggulan riset (research excellence), kepemimpinan kelembagaan (institutional leadership), inovasi (political innovation), dan pengabdian masyarakat (community engagement) berjalan saling melengkapi.

Dari panggung Surabaya, para akademisi membuktikan bahwa politik bukanlah panggung dingin kekuasaan, melainkan media hangat untuk memperjuangkan kesejahteraan rakyat, keadilan sosial, dan kemanusiaan.

Untuk memahami makna peringatan satu dekade ini, perlu ditarik mundur ke titik awal. APSIPOL didirikan di Malang pada 2 November 2016. Perayaan satu dekade di Surabaya tahun ini memang berdekatan persis dengan tanggal kelahiran organisasinya, karena munasyawarah para dekan dan ketua program studi ilmu politik di berbagai perguruan tinggi pada 2016 itulah yang memantik pembentukan sebuah wadah khusus program studi.

Sebuah dekade kemudian, organisasi itu telah tumbuh menjadi payung bagi 77 program studi ilmu politik anggota di seluruh Indonesia Pertumbuhan itu menunjukkan satu hal: kebutuhan akan koordinasi antar-program studi ilmu politik di Indonesia begitu besar. APSIPOL menjadi tempat bertukar kurikulum, penelitian, pengabdian masyarakat, hingga strategi menghadapi dinamika politik kontemporer.

APSIPOL dan AIPI

Di tengah perayaan ini, pertanyaan muncul di publik adalah, apakah APSIPOL sama dengan AIPI (Asosiasi Ilmu Politik Indonesia)? Jawabannya, tidak sama, meskipun keduanya adalah wadah perhimpunan ilmuwan politik Indonesia. Perbedaannya terletak pada basis keanggotaan dan fokus geraknya.

AIPI adalah asosiasi profesi. Organisasi ini didirikan di Jakarta pada 17 Januari 1985 oleh almarhum Dr. Alfian, almarhum Prof. Miriam Budiardjo, dan sejumlah ilmuwan lainnya. Kelahirannya terinspirasi keberadaan American Political Science Association (APSA) di Amerika Serikat – wadah para ilmuwan politik yang juga menerbitkan jurnal ilmiah tentang perkembangan teori politik mutakhir. AIPI beranggotakan akademisi dan praktisi ilmu politik secara individu, dan selama ini bergantung pada dukungan sumber daya manusia dari Pusat Penelitian Politik LIPI (sekarang BRIN) serta beberapa perguruan tinggi seperti Universitas Indonesia, Universitas Nasional, dan CSIS. AIPI dikenal melalui penyelenggaraan seminar nasional berkala yang mengulas isu-isu politik dan pemantapan kehidupan demokrasi Indonesia.

APSIPOL, di sisi lain, adalah asosiasi program studi. Keanggotaannya bukan perorangan, melainkan institusi pendidikan tinggi yang memiliki program studi ilmu politik. Fokusnya bukan terutama pada profesi dan jurnal ilmiah – seperti halnya AIPI – tetapi pada peningkatan kualitas pendidikan politik di Indonesia: pengembangan kurikulum, penguatan pengajaran, dan pemberdayaan dosen serta mahasiswa. Jika AIPI adalah "rumah" bagi ilmuwan politiknya, APSIPOL adalah “rumah” bagi lembaga tempat ilmuwan-ilmuwan itu belajar dan mengajar.

Ada pula perbedaan penting lain. Saat temu nasional APSIPOL tahun ini di Airlangga, misalnya, yang dirayakan bukan sekadar capaian akademik individu, melainkan ekosistem pendidikan politik secara keseluruhan. Penghargaan-penghargaan yang diberikan – mulai dari excellence in political education hingga community engagement – mencerminkan misi itu. ●

0 0 vote
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

New Feed

Bidik Juara Umum Lagi, Polres Muba Buka Pusat Latihan Silat untuk Lestarikan Budaya

Tue, 14 Jul 2026 02:47:22am

SEKAYU, 13 JULI 2026 – Pasca sukses besar menyabet predikat Juara Umum pada ajang Kapolda Cup II 2026 dengan torehan 27 medali, Kepolisian Resor...

Pantang Surut Diterjang Kantuk: Dedikasi 24 Jam Damkar Muba Jinakkan Api di Tengah Malam

Sun, 12 Jul 2026 11:52:31pm

SEKAYU – Ketika sebagian besar warga Kabupaten Musi Banyuasin (Muba) tengah terlelap dalam buaian mimpi, alarm darurat justru berbunyi keras di...

JUARA UMUM KAPOLDA CUP II 2026: Ketua Himssi GP Muba Beri Apresiasi Tinggi Atas Dominasi Prestasi Polres Muba

Sun, 12 Jul 2026 09:22:47am

SEKAYU, 12 JULI 2026 – Keberhasilan spektakuler Kepolisian Resor (Polres) Musi Banyuasin (Muba) dalam menyabet predikat Juara Umum pada ajang...

Polres Muba Borong 27 Medali dan Sabet Juara Umum di Kapolda Cup VI 2026, Duet Aipda Juendi & Aiptu Martin Dedi Martin Raih Emas Badminton

Sun, 12 Jul 2026 09:16:12am

SEKAYU, 12 JULI 2026 – Prestasi gemilang dan membanggakan kembali diukir oleh jajaran Kepolisian Resor (Polres) Musi Banyuasin (Muba) dalam ajang...

Diterjang Kebakaran Sabtu Pagi, Dua Pemilik Rumah di Lawang Wetan Rugi Puluhan Juta

Sat, 11 Jul 2026 07:47:54am

SEKAYU — Kebakaran hebat melanda permukiman padat penduduk di Dusun 3, Desa Ulak Paceh, Kecamatan Lawang Wetan, Kabupaten Musi Banyuasin (Muba)...

Baca Juga